Jumat, 24 Juli 2020

Kesulitan Belajar pada Siswa


    Pada umumnya “kesulitan” merupakan suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam kegiatan mencapai suatu tujuan, sehingga memerlukan usaha yang lebih berat lagi untuk dapat mengatasinya. “Kesulitan belajar” dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. hambatan-hambatan tersebut dapat disadari dan tidak disadari oleh siswa yang bersangkutan. Hambatan tersebut bisa bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis dalam keseluruhan proses belajar.
    Kesulitan belajar dapat menghinggapi seseorang dalam kurun waktu yang lama. Kesulitan tersebut dapat mempengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang baik di sekolah, pekerjaan, rutinitas sehari-hari, kehidupan keluarga, atau bahkan dalam hubungan persahabatan dan bermain. Siswa dengan kesulitan belajarnya tentunya akan sangat mengganggu ia dalam mencapai prestasi belajar. kesulitan belajar merupakan kelainan bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian belajar. cakupan pengertian anak berkesulitan belajar yaitu anak yang secara signifikan menunjukkan kesulitan dalam mengikuti pendidikan pada umumnya, tidak mampu mengembangkan potensinya secara optimal, prestasi belajar yang dicapai berada dibawah potensinya sehingga mereka memerlukan perhatian atau pelayanan khusus untuk mendapatkan hasil terbaik sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Anak berkesulitan belajar secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologi dasar maupun sebab-sebab lain sehingga prestasi belajarnya rendah dan anak tersebut berisiko tinggi tinggal kelas.

Faktor-Faktor Kesulitan Belajar
    Di Negara-negara berkembang seperti Indonesia, prevalensi anak dengan kesulitan belajarnya diperkirakan lebih besar. Para ahli mengemukakan bahwa penyebab kesulitan belajar itu kompleks dan luas. Secara umum, penyebab kesulitan belajar, antara lain:
1. Faktor intelektual, yaitu inteligensi yang rendah dan terbatas
2. Faktor kondisi fisik dan kesehatan, termasuk kondisi kelainan seperti kurangnya gizi pada ibu hamil, bayi dan anak, kerusakan susunan dan fungsi otak, dan penyakit persalinan
3. Faktor social, seperti pengaruh teman bermain, pergaulan dan lingkungan sekitar
4. Faktor keluarga, seperti keadaan keluarga yang tidak baik dan kurangnya dukungan belajar dari orang tua

Jenis-jenis Kesulitan Belajar
1. Kesulitan belajar umum
    Anak berkesulitan belajar umum secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologi dasar maupun sebab-sebab lain sehingga prestasi belajarnya rendah dan anak tersebut beresiko tinggi tinggal kelas.
    Anak berkesulitan belajar tidak sama dengan anak tunagrahita. Anak berkesulitan belajar umum biasanya ditandai dengan prestasi belajar yang rendah untuk hampir semua mata pelajaran atau nilai rata-rata jauh di bawah rata-rata kelas sehingga mempunyai resiko tinggi untuk tinggal kelas. Kesulitan belajar tersebut disebabkan karena IQ yang rendah. Pada umumnya anak yang mengalami kesulitan belajar karena mempunyai inteligensi dibawah rata-rata yakni dengan IQ antara 70-90. Mereka sulit untuk menangkap pelajaran dan umumnya bersekolah di sekolah-sekolah umum.
    Anak berkesulitan belajar kemungkinan juga mengalami gangguan fisik, social dan mental yang ringan sehingga cukup mengganggu mereka dalam menangkap pelajaran. Anak yang mengalami gangguan penglihatan jauh akan merasa kesulitan jika ditempatkan di tempat duduk paling belakang, demikian juga dengan anak yang mengalami gangguan pendengaran ringan. Anak yang memiliki inteligensi dibawah rata-rata (slow learner) memerlukan penjelasan dengan menggunakan berbagai metode dan berulang-ulang agar mereka dapat memahami pelajaran dengan baik. Anak yang mengalami gangguan tingkah laku memerlukan perhatian yang cukup terhadap persoalan social yang dihadapinya agar dapat mengonsentrasikan diri pada pelajaran.

2. Kesulitan belajar khusus
    Kesulitan belajar khusus dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu kesulitan belajar praakademik dan kesulitan belajar akademik.
a. Kesulitan belajar praakademik
1) Gangguan motorik dan persepsi
    Gangguan perkembangan motorik disebut dispraksia, mencakup gangguan pada motorik kasar, penghayatan tubuh, dan motorik halus. Gangguan persepsi mencakup persepsi penglihatan atau persepsi visual, persepsi pendengaran atau auditoris, persepsi heptik (raba dan gerak atau kinestetik), dan inteligensi sistem persepsual.
    Dispraksia atau sering disebut clumsy adalah keadaan sebagai akibat adanya gangguan dalam inteligensi auditori-motor. Anak tidak mampu menggerakkan anggota tubuh dengan benar walaupun tidak kelumpuhan anggota tubuh.
a) Dispaksia ideomotoris, ditandai dengan kurangnya kemampuan dalam melakukan gerakan sederhana seperti : menggunting, menggosok gigi, atau menggunakan sendok makan. Gerakannya terkesan canggung dan kurang luwes.
b) Dispraksia ideosional, ditandai dengan anak dapat melakukan gerakan kompleks tetapi tidak mampu menyelesaikan secara keseluruhan terutama dalam kondisi lingkungan yang tidak tenang. Kesulitannya terletak pada urutan-urutan gerakan, anak sering bingung mengawali suatu aktivitas, misalnya mengikuti irama music.
c) Dispraksia konstruksional, ditemukan pada anak yang mengalami kesulitan melakukan gerakan kompleks yang berkaitan dengan bentuk, seperti menyusun balok dan menggambar.hal ini disebabkan karena kegagalan dalam konsep visiokonstruktif.

2) Kesulitan belajar kognitif
    Pengertian kognitif mencakup berbagai aspek struktur intelektual yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Kognitif merupakan fungsi mental yang mencakup persepsi, pikiran, simbolisasi, penalaran, dan pemecahan masalah. Perwujudan fungsi kognitif dapat dilihat dari kemampuan anak menggunakan bahasa dan menyelesaikan soal-soal berhitung.

3) Gangguan perkembangan bahasa (Disfasia)
    Disfasia adalah ketidakmampuan anak menggunakan symbol linguistic dalam berkomunikasi secara verbal. Gangguan pada anak terjadi pada fase perkembangan ketika anak belajar berbicara disebut disfasia perkembangan (developmental dysphasia).
    Disfasia ada dua jenis, yaitu disfasiareseptif dan disfasia ekspresif. Apada disfasia reseptif anak mengalami gangguan pemahaman dalam penerimaan bahasa. Anak dapat mendengar kata-kata yang diucapkan, tetapi tidak mengerti apa yang didengar karena mengalami gangguan dalam proses stimulus yang masuk. Pada disfasia ekspresif, anak tidak mengalami gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengekspresikan kata secara variabel. Anak dengan gangguan perkembangan bahasa akan berdampak pada kemampuan membaca dan menulis.

4) Kesulitan dalam penyelesaian perilaku social
    Ada anak yang perilakunya tidak dapat diterima oleh lingkungan sosialnya, baik oleh sesame anak, guru, maupun orang tua. Ia ditolak oleh lingkungan sosialnya karena sering menggangu, tidak sopan, tidak tahu aturan, atau berbagai perilaku lainnya. Jika kesulitan penyesuaian perilaku social ini tidak secepatnya ditangani maka tidak hanya menimbulkan kerugian bagi anak itu sendiri, tetapi juga bagi lingkungannya.

b. Kesulitan belajar akademik
    Meskipun sekolah mengajarkan berbagai mata pelajaran atau bidang studi, namun klasifikasi kesulitan belajar akademik tidak dikaitkan dengan semua mata pelajaran atau bidang studi tersebut. Berbagai literature yang mengkaji kesulitan belajar hanya menyebutkan tiga jenis kesulitan belajar akademik, sebagai berikut:
1) Kesulitan belajar membaca (Disleksia)
    Kesulitan belajar membaca yang berat disebut disleksia. Kemampuan membaca tidak hanya merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan kerja dan memungkinkan orang untuk berprestasi dalam kehidupan masyakarat secara bersama.
    Ada dua jenis pelajaran membaca, yaitu membaca permulaan atau membaca lisan dan membaca pemahaman. Mengingat pentingnya kemampuan membaca bagi kehidupan, kesulitan belajar membaca hendaknya ditangani sedini mungkin.
    Ada dua tipe disleksia, yaitu disleksia auditoris dan disleksia visual. Gejala-gejala disleksia auditoris adalah sebagai berikut:
a) Kesulitan dalam diskriminasi auditoris dan persepsi sehingga mengalami kesulitan dalam analisis fonetik. Contohnya anak tidak dapat membedakan kata ‘kakak, katak, kapak’
b) Kesulitan analisis dan sintesis auditoris, contohnya ‘ibu tidak dapat diuraikan ‘i-bu’ atau problem sintesa ‘p-i-ta’ menjadi ‘pita’. Gangguan ini dapat menyebabkan kesulitan membaca dan mengeja
c) Kesulitan auditoris bunyi atau kata. Jika diberi huruf tidak dapat mengingat bunyi huruf atau kata tersebut, atau jika melihat kata tidak dan mengingatnya walaupun mengerti arti kata tersebut
d) Membaca dalam hati lebih baik daripada membaca lisan
e) Kadang-kadang disertai gangguan urutan auditoris
f) Anak cenderung melakukan aktivitas visual

2) Kesulitan belajar menulis (Disgrafia)
    Kesulitan belajar menulis yang berat disebut disgrafia. Ada tiga jenis pelajaran menulis yaitu menulis permulaan, mengeja atau dikte, dan menulis ekspresif. Kegunaan kemampuan menulis bagi seorang siswa adalah untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Oleh karena itu, kesulitan belajar menulis hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

3) Kesulitan belajar berhitung (Diskalkulia)
    Ada tiga elemen belajar berhitung yang harus dikuasai oleh anak. Ketiga elemen tersebut adalah konsep, komputasi, dan pemecahan masalah. Seperti halnya bahasa, berhitung merupakan bagian dari matematika yang merupakan sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu, kesulitan belajar bahasa, kesulitan berhitung hendaknya dideteksi dan ditangani sedini mungkin agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran lain di sekolah.
Cara Mengatasi Kesulitan Belajar
    Kegiatan belajar mengajar di kelas bukanlah hanya sebuah kegiatan transfer ilmu semata. Tapi lebih jauh lagi dalam hal penyiapan dan pembentukan generasi yang lebih kompeten pada bidang yang dipilihnya. Tentunya kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di kelas, tidaklah semudah dalam sinetron yang “tiba-tiba” menjadi pintar tanpa upaya maksimal baik dari guru, siswa, sekolah, dan aspek lainnya yang mempengaruhi pendidikan itu sendiri. Dibutuhkan dukungan dari semua aspek yang menjadi faktor penentu keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah dan salah satunya adalah tingkat kemampuan guru dalam menemukan dan melayani perbedaan individu siswa yang mengalami kesulitan belajar.
1. Identifikasi
    Adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, yaitu mencari informasi tentang siswa dengan melakukan kegiatan berikut:
a. Data dokumen hasil belajar siswa
b. Menganalisis absensi siswa di kelas
c. Mengadakan wawancara dengan siswa
d. Menyebar angket untuk memperoleh data tentang permasalahan belajar
e. Tes untuk memperoleh data tentang kesulitan belajar atau permasalahan yang dihadapi

2. Diagnosis
    Adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data tentang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan jenis kesulitan yang dialami siswa. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal berikut:
a. Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar siswa
b. Keputusan mengenai faktor-faktor yang menjadi sumber sebab-sebab kesulitan belajar
c. Keputusan mengenai jenis mata pelajaran apa yang menjadi kesulitan belajar
Kegiatan diagnosis dapat dilakukan dengan cara:
a. Membandingkan nilai prestasi individu untuk setiap mata pelajaran dengan rata-rata nilai seluruh siswa
b. Membandingkan prestasi dengan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut
c. Membandingkan nilai yang diperoleh dengan batas minimal tujuan yang diharapkan

3. Prognosis
    Prognosis menunjukkan aktifitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa. Prognosis ini dapat berupa:
a. Bentuk treatmen yang harus diberikan
b. Bahan atau materi yang diperlukan
c. Metode yang akan digunakan
d. Alat bantu belajar mengajar yang diperlukan
e. Waktu kegiatan dilaksanakan

4. Terapi atau pemberian bantuan
    Terapi disini adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk terapi yang diberikan antara lain melalui:
a. Bimbingan belajar kelompok
b. Bimbingan belajar individual
c. Pengajaran remedial
d. Pemberian bimbingan pribadi

Sumber:

Tidjan, dkk. Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah. Yogyakarta: UNY Press

Wood Derek, dkk. 2007. Kiat Mengatasi Gangguan Belajar. Yogyakarta: Katahati

Yusuf Munawir, dkk. 2003. Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

0 komentar:

Posting Komentar